Oleh : S. Djuni Prihatin (Staf Pengajar PSdK, Fisipol, Universitas Gadjah Mada)

Kebijakan hilirisasi presiden Joko Widodo tidak disukai asing karena kebijakan tersebut mengancam kepentingan asing di Indonesia. Kebijakan hilirisasi bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah produk-produk Indonesia, sehingga Indonesia tidak lagi menjadi penghasil bahan mentah yang diekspor ke luar negeri. Hal ini tentu saja akan merugikan asing yang selama ini menikmati keuntungan dari ekspor bahan mentah Indonesia.

Untuk melemahkan kebijakan hilirisasi dan untuk memenangkan capres yang tidak pro-hilirisasi, inteligen asing akan melakukan politik adu domba (devide et impera) terhadap  capres nasionalis yang memiliki pendukung terbesar di Indonesia ini. Politik adu domba  dilakukan dengan cara menyebarkan berbagai isu-isu yang dapat menimbulkan perpecahan di antara pendukung capres. Adalah Julius Cesar yang sangat popular menerapkan strategi dalam membangun  Kekaisaran Romawi, sehingga lawan mudah dikuasai. Devide et impera itu sendiri artinya secara harafiah adalah “pecah dan berkuasa”.

Beberapa contoh isu yang biasa dan dapat digunakan untuk mengadu domba pendukung capres nasionalis:

Isu SARA. Inteligen asing bisa menyebarkan isu-isu SARA untuk mengadu domba antara pendukung capres yang berasal dari suku, agama, ras dan antar golongan  yang berbeda.

Isu ideologi. Inteligen asing bisa menyebarkan isu-isu ideologi untuk mengadu domba antara pendukung capres yang berasal dari ideologi yang berbeda.

Isu korupsi. Inteligen asing bisa menyebarkan isu-isu korupsi untuk mengadu domba antara pendukung capres yang berasal dari partai politik yang berbeda.

Ketika kelompok pendukung capres nasionalis saling berkonflik maka akhirnya tidak fokus untuk memenangkan capresnya tetapi sibuk berurusan dengan sesama nasionalis sehingga pada akhirnya mereka yang berpotensi menang adalah mereka dari kalangan yang kontra hilirisasi, ini menjadi sangat berbahaya di tengah gegap gempitanya presiden Joko Widodo  berupaya untuk meningkatkan nilai tambah olahan bahan mentah bumi Indonesia, untuk kesejahteraan dan kemakmuran bangsa Indonesia.

Oleh karena itu untuk mewaspadai politik adu domba ini, para pendukung capres harus:

Cermat dalam memilih informasi. Pendukung capres harus cermat dalam memilih informasi yang diterima, terutama informasi yang beredar di media sosial. Pastikan informasi tersebut berasal dari sumber yang kredibel dan tidak mengandung unsur provokatif.

Tidak mudah terprovokasi. Pendukung capres harus bijak dalam menyikapi informasi yang diterima, terutama informasi yang bersifat provokatif. Jangan mudah terprovokasi dan menyebarkan informasi tersebut kepada orang lain.

Bersikap toleran. Pendukung capres harus saling menghormati perbedaan pendapat dan agama. Hindari membuat pernyataan atau tindakan yang bisa menimbulkan konflik SARA.

Dengan mewaspadai politik adu domba, para pendukung capres diharapkan dapat menjaga persatuan dan kesatuan bangsa menjelang Pilpres 2024.

Berikut ini ada beberapa hal yang harus diketahui untuk menghindari politik adu domba:

Saring informasi yang diterima. Jangan langsung percaya dengan informasi yang diterima, apalagi jika informasi tersebut berasal dari sumber yang tidak jelas. Perlu tindakan cross cek dengan sumber yang lainnya. Cari tahu kebenaran informasi. Jika menemukan informasi yang mencurigakan, coba cari tahu kebenarannya dari sumber lain yang lebih kredibel.

Jangan mudah terprovokasi. Jika menemukan informasi yang provokatif, jangan mudah terpancing untuk menyebarkannya.

Bersikap toleran. Hargai perbedaan pendapat dan suku, agama, ras dan antar golongan orang lain.

Dengan mengikuti hal-hal tersebut, para pendukung capres niscaya dapat berpikir dengan waras sehingga terhindar dari politik adu domba yang bisa memecah belah bangsa. Salam NKRI.

Leave a Reply